Selasa, 20 Mei 2014
kegalauan Arsitek, (tanggung jawab dan harga diri)
beruntungnya pas masuk dapat teman seangkatan yang luar biasa, semester pertama saya bekerja di salah satu dept.store terkemuka, pagi kuliah siang kerja, malam pulang ngerjakan tugas dan ......bertahan satu tahun aja, setelah itu kacau balau, semester 2 beruntung sekali ketemu dengan senior yang memperkenalkan organisasi mahasiswa arsitek, dengan modal nekat dan ingin tau akhirnya....sampai juga di semarang, hahahahah...naik bis ekonomi mogok ditengah tol, sebelumnya makan asap knalpot yang bocor ...hahahaha..
sangking semangatnya semester 3 ipk 0, sekian..hahahahaha, di panggil wadek 1 dan disarankan untuk pindah jurusan, ya Tuhan...ketika lagi bersemangat dengan dunia arsitektur, kog malah disuruh pindah...akhirnya tantangan terberat semester 4 IP harus 3, sekian...dan alhasil saya berhasil...
4 tahun lebih kujalani kehidupan arsitek bersama para sahabat, susah senang , tawa tangis , haru , membentuk karakter saya saat ini..dimana rasa peduli akan sesama tertanam sampai ke pembuluh darah, belum lagi sodara2 mahasiswa arsitek setanah air, khususnya dari jawa timur...tak pernah bisa terlupakan kebersamaan kalian, mabuk , muntah ahhahahaa....indah waktu itu..saling memahami karakter. dan bertukar ilmu walau keadaan lagi mabuk...hahahaha bisa yah..
kebersamaan indah bersama kalian tak bisa terlupakan , sampai akhir hayat, khususnya widyastana 05..arak beras 05 hahahaha...indah..indah..haru...
setelah lulus kuliah arsitek, perlahan menjauh dari zona nyaman bersama kalian, entah....meskipun seakan tetap bersama tapi seiring waktu terkikis , berbeda dengan cita2 yang kita pegang dahulu..dan memang itu pilihan masing2...
dan setelah masuk ke dunia konsultan perencanaan, mulai terbuka pemikiran saya...dimana banyak pihak yang seakan menggeser sebuah karya arsitektur lokal...
pihak terkait staf ahli dari pemerintah, kebnayakn tidak bisa menyampaikan secara verbal dan intuisi kepada penguasa ..semua telah diatur, padahal rata2 staf ahli pemerintah lulusan terbaik dari perguruan tinggi negeri yang terkenal, tapi yang saya sayangkan mereka malah tidak mempunyai sikap yang arif untuk menyelesaikan sebuah desain, tanpa dilalui sebuah studi teori yang tepat, semua seakan dituntun ntuk menjadi seperti,,, terasa sudah jika 20 tahun kedepan kita akan kehilangan sebuah jiwa arsitektur lokal...
kenapa ketika kita mempunyai sebuah posisi nyaman , kita malah menjual harga diri kita sebagai arsitek, hanya untuk menyelamatkan jabatan agar aman, dan tak lupa uang.. hahahahaha, mau marah juga sama siapa...
arsitektur tidak cuman sekedar membuat sesuatu yang bagus, tapi kita dituntut untuk mengarahkan manusianya menjadi lebih baik, dengan sebuah tanggung jawab dan harga diri dam menciptakan suatu karya...bukan mengorbankan harga diri kita sebagai arsitek...
hahahahaa 5 tahun akan kah sia2 ? perjuangan belajar dan mempertahankan kehidupan arsitek yang arif sampai ke negeri rencong dengan modal seadanya...hahahahaha....
banyak kawan yang berjuang bersama demi kemajuan pendidikan arsitektur malah bnayak yang menodai dengan menjual harga diri seorang arsitek...(free design but we build) hahahahaha...lucu..bedanya apa dengan pelacur...
I MISS u friend's ,
when we realize our desire to be something that changed the world through the work of architecture, when we put aside our need for one purpose, namely architecture.
I miss you guys ......
we first always excited when it relates to architecture, all the obstacles that prevent us from working together we get rid of, construct an architectural masterpiece with ... but it has passed, we have had a variety of different ideas about architecture ..
survivors struggle comrade, I always want us to come together as before, build a local architectural masterpiece and has a value and a life for the nation and our region.
Senin, 27 September 2010
Langgam Post Modern
Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sub-langgam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.
1. PURNA MODERN
a. Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern' yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)
b. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.
c. Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.
d. Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell.
2. NEO MODERN
a. Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah.
b. Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction). Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.
c. Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.
d. Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra).
e. Tokohnya antara lain: Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.
f. Tampilan dominan bentuk geometri.
g. Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.
3. DEKONSTRUKSI
a. Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.
b. Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O'Gehry.
c. Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.
Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.
1. Tidak memakai semboyan Form Follows Function
Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.
Apa yang dikomunikasikan?
Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu :
PURNA MODERN : yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.
NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.
DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah
a. Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.
b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.
Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:
Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past),
Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan
Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi "Ini merupakan kesombongan dekonstruksi."
2. Fungsi ( bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)
Yang dimaksud dengan `fungsi' di sini bukanlah `aktivitas', bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur' (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi' yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi.
Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, 'FUNGSI bukan AKTIVITAS'
Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu :
Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom),
Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,
Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan,
Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya,
Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal,
Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya.
Berdasarkan pokok pikiran ini, maka :
Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah fungsi-fungsi metaforik (=simbolik) dan historikal.
NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan).
DEKONSTRUKSI menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.
3. Bentuk dan Ruang
Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak.
Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.
Ciri pokok dari bentuk adalah 'ada dan nyata/terlihat/teraba', sedangkan ruang mempunyai ciri khas 'ada dan tak-terlihat/tak-nyata'. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.
Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur :
Purna Modern bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang,
Neo Modern sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam
Pengertian Post Modern
Pengertian postmodern :
- Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis.
- Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama.
- Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari Arsitektur Modern tetap dipakai.
- Merupakan pengulangan periode 1890-1930.
- Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.
- Tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Arsitektur Modern.
Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan.
Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll. Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern.
Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan :
1. Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern.
2. Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.
Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang 'untuk siapa arsitektur itu diciptakan?'. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme.
Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme :
· Modernisme : singular, seragam, tunggal.
· Post Modernisme : plural, beraneka ragam, bhinneka.
Sebuah Gambaran tentang Post Modern
Jumat, 29 Januari 2010
arsitektur Nusantara
Indonesia memiliki 18,018 buah pulau yang tersebar di sekitar khatulistiwa mulai dari 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur. Diantara puluhan ribu pulau tersebut terdapat lima pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, dengan pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%) populasi Indonesia hidup dipulau ini. Flora dan fauna
dan sering menjadi ikon dalam perkembangan wilayah atau daerah tersebut. Selain itu,
Berdasarkan sosial linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Austronesia yang kelompok wilayahnya persebarannya meliputi banyak pulau di Asia Tenggara, sebagian dari Vietnam Selatan, Taiwan Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar sehingga memiliki banyak kesamaan warisan budaya. Pengaruh budaya
organisasi sosial, kepercayaan, mitos, serta bahasa.
Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Secara umum periodisasi sejarah budaya
- Arsitektur vernacular
- Arsitektur klasik atau candi
- Arsitektur pada masa perabadan atau kebudayaan Islam
- Arsitektur Kolonial
- Arsitektur Modern (pasca kemerdekaan)
Senin, 04 Januari 2010
prinsip menganalisa sebelum mendesain
DESAIND and ANALISYS
Disini menjelaskan bahwa semua desain berdasarkan atas pesanan atau keinginan sang pemilik. Sehingga sang arsitek sebagai bagian yang mendesain dapat menyesuaikan dengan keinginan sang pemilik. Dalam mendesain harus mengenal bentuk dan bahan-bahan apa yang akan digunakan lalu juga harus mengenali dimana bangunan itu akan dibangun. Sehingga antara kedua hal tersebut saling mendukung satu sama lain.
Setiap desain pada rancangan harus mempunyai kegunaan dan fungsi yang sesuai dengan lingkungan sekitar. Setiap ruang yang akan dirancang haruslah mempunyai hubungan antar ruang yang dinamis satu sama lain.
Penggunaan struktur yang mendukung pada suatu bangunan merupakan hal yang sangat penting dalam mendesain sebuah bangunan. Sehingga penggunaan fungsi dari struktur itu sendiri dapat mencerminkan bagian dari bangunan tersebut.
Elemen-elemen di dalam bangunan haruslah mempunyai arti dalam desain yang akan ditampilkan dalam bangunan tersebut. Dan elemen-elemen tersebut memegang peranan penting dalam sebuah desain.
Setiap bangunan yang dirancang merupakan bangunan yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Karena bangunan yang baru dapat mempengaruhi lingkungan di sekitar bangunan tersebut.
Kamis, 31 Desember 2009
citra kota surabay
citra kota surabaya
Mencari Citra KotaCITRA sebuah kota memang tidak hanya ditentukan oleh tampilan wajahnya. Bahkan tokoh cerita kota terkenal seperti Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City (1974) melihat ada delapan unsur kota yang menentukan citranya antara lain landmark, simpul-simpul, hingga urutan atau sikuen dan hubungan antar-elemen kota. Bagi manusia masa kini masih ada cara tertentu untuk menetapkan tampilannya yaitu yang disebut body language. Bagi kota, hal seperti ini juga berlaku. Lalu bagaimana dengan masalah tampilan atau citra Kota Surabaya? Sebelum mencari jawab atas pertanyaan ini, ada baiknya bila masalah kontekstual yang lebih luas dibahas lebih dahulu. Hanya dua aspek kontekstual yang hendak dibahas di sini, yaitu aspek peluang untuk bersaing dan wawasan warga.
Diundangkannya UU Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 1999 membuka peluang semua kota untuk bersaing maju. Ini berarti, peluang bagi Surabaya untuk tampil dan meraih kembali pamornya yang pernah dipunyainya pada awal abad ke-20 sebagai kota penting di Indonesia, sangat besar. Jakarta setelah tumbangnya Orde Baru berada dalam keadaan yang parah karena hilangnya peredaran uang dari 70 persen menjadi tidak lebih dari 30 persen, serta pemerintah pusat yang wewenangnya terbatas oleh pola otonomi daerah. Dibandingkan kota lain, Surabaya punya peluang yang paling besar meraih berbagai fungsi kekotaan yang hilang dari Jakarta.
NAMUN, Surabaya tidak punya jaminan dapat begitu saja meraih kambali posisi menjadi kota yang diperhitungkan pemodal. Kota seperti Medan (Barat) dan Makassar (Timur) serta Bali menjadi pesaing berat. Tetapi, Surabaya memang mempunyai kelebihan. Yang segera harus dibenahi tentang aspek kekotaannya adalah memberikan pelayanan yang baik, kondisi fisik kota yang menarik, dan tetap menjaga kekhasannya.
Kali ini dari tiga aspek kekotaan yang dikemukakan di atas, hanya aspek kondisi fisik kota yang hendak dibahas. Ini meliputi kerapian, daya tarik, dan ciri khasnya.
Di samping Surabaya belum berhasil meraih kembali kejayaannya sebagai kota bersih dengan penghargaan nasional dan internasional, wajah Surabaya juga porak-poranda. Di samping soal kebersihan, arsitektur kota dan keamanan, yang paling merusak citra kota adalah kehadiran iklan-iklan di tempat publik yang bercita rasa rendah.
Citra kota merupakan hubungan dua arah yang harmonis, antara yang dilihat dan yang melihat. Yang dapat dikendalikan oleh Pemkot adalah terbatas pada yang dilihat. Sedang wawasan atau cita-cita yang melihat punya syarat dan kemandirian yang tidak dapat dipengaruhi oleh pemerintah yang otoriter sekalipun. Cita rasa dan wawasan warga yang melihat iklan di papan reklame dipengaruhi oleh mental image atau cognitive image. Saat ini ada kesenjangan yang lebar antara apa yang dilihat oleh cognitive image-nya warga dengan apa yang disajikan dalam papan iklan tersebut. Dan mental serta cognitive seseorang ditentukan oleh wawasan dan pengetahuannya. Harus diakui bahwa wawasan warga Kota Surabaya berkembang lebih maju ketimbang yang ada di Pemkot.
Secara sederhana papan reklame yang ada di Surabaya menanggung tiga dosa moral. Karena letak, ukuran, dan tampilannya kebanyakan papan reklame mau menang sendiri, ini membuat Surabaya menjadi kota yang tidak punya karakter arsitektur karena terusik oleh pemandangan buruk yang disajikan oleh iklan di tempat publik. Kedua, bentuk, ukuran, letak serta isi iklan hanya menunjukkan betapa lemahnya dan tidak cerdasnya Pemkot yang tidak mampu dan tidak berhasil mengatur iklan di tempat publik.
Dosa ketiga adalah letak iklan yang mengambil ruang terbuka hijau dan di tempat umum, serta mengganggu perhatian atau konsentrasi masyarakat saat berkendaraan di jalan umum oleh "teriakan" iklan yang sama sekali tidak merdu. Walaupun saat ini Pemkot sudah akan memilih konsultan untuk membina periklanan di tempat publik, namun pihak yang akan dipilih ternyata tidak independen, bahkan punya vested interest yang tinggi. Bagaimana dapat terjadi pertandingan sepak bola yang baik bila wasitnya ikut main?
Yang barangkali perlu mendapat pertimbangan dan mengambil langkah proaktif adalah memulai gerakan masyarakat guna mendukung upaya Pemkot membenahi papan reklame dan berbagai iklan di tempat publik yang tidak etis dan estetis. Caranya cukup sederhana yaitu tidak membeli barang yang diiklankan pada papan reklame yang dijajakan di sepanjang jalan seputar Kaliasin dan Tunjungan. Ini tidak perlu biaya atau tenaga khusus dan semua mudah melakukannya.
Yang perlu adalah kesungguhan dan kecintaan terhadap kota kita dan menyatakan bahwa warga Surabaya sudah tidak memberikan toleransi apa pun terhadap kehadiran berbagai iklan yang merugikan citra kotanya. Untuk jangka panjang, warga juga dapat membentuk sendiri semacam dewan yang memberi penilaian warga terhadap berbagai tampilan fisik yang berpengaruh terhadap citra Surabaya. Badan seperti ini tidak perlu menunggu sampai dibentuk oleh Pemkot dan juga tidak perlu minta izin. Membentuk semacam Hansip Fisik Kota oleh warganya sendiri adalah perbuatan yang terpuji dan terhormat. Jadi tunggu apa lagi?